Kembara Hati (bag.1)

Angin berhembus merebak lembaran-lembaran daun berkerumun, gemerisik suaranya berbisik menyampaikan lirik-lirik hati yang terusik, lirih, pelan, memapah hati semakin menyusup ke keharuan

“Yaaah …, aku harus tetap melangkah melanglang batas jiwa yang selalu terpana pesonamu…., terlalu muluk bila aku berdiam di keramaian cuntanya, berharap bintang dipinang rembulan..”

Mahisa tertegun sejenak di unduk batu pertengahan bukit, cakwawala biru bertabur kelabu awan, menyembunyikan lembayung yg seharusnya tersenyum, masih terngiang wejangan indah peneguh hati dari eyang yang tak kuasa menahan bunga yang meminjam sayap merpati tuk terbang

“Nyai….. Kehidupan silih berganti, ketika berada dalam cerah pagi, kita hanya berusaha dan berdoa semoga malam tidak terlalu cepat mengganti, yang tangguh bukan berarti tidak pernah rapuh, namun dia yang tangguh, tidak mau berlama-lama dalam keluh….”

Ohh…apakah aku rapuh karena menikmati genangan keluh, atau tangguh karena mencoba memberi apa yg tercinta ingini, walau dalam hati ada perih.

Masih terngiang juga ketika embah menambah sejumput strategu hati agar tak menayangkan goresan bilah belati

“Nyai….ketka kepedihan merambah rasa, jangan liukkan tarian cemburu di tatap matanya, hanya akan menjadikannya bangga masih menjadi penguasa cintamu, jangan…jangan….lakukan itu, berlalulah di batas pandangnya dengan segurat senyum terbentang, keluarkan kekuatan hati seolah dia bukan yangterpenting di relung jiwamu, Percayalah ….. kerajaan langit telah mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuk yang selalu yakin akan Kekuasaan-Nya…..”

“Nyai…. Keyakinan diri adalah kekuatan yang maha dahsyat, pengembara tangguh penembus liku pelaku rapuh…”

Mahisa terhenyak, kekuatan baru menerobos gejolak, menerjang keluh yang telah lama membunuh keyakinan nya.

Dia tinggalkan lembah yg akan jadi kembaranya, dia lewati kembali gapura yang masih penuh aromacinta, suara gending samara-samar menyusup hati, janur kuning seolah melambai meronakan asmara yg menggelora.

“Mahisa….ini yang terbaik untukmu, ikhlash dan sabarlah, kau akan bersyukur melebihi yang biasa kau syukuri..” suara yang entah dari mana

Tiba-tiba dia teringat secarik kertas yg dia simpan dan akan selalu tersimpan, dan dibukanya

…………………

Nyai…..

Dinding itu terlalu tipis

Ruangan itu hampir serupa

Langitpun digores seakan gambaran jiwa

Merayu pikiran untuk dipinang keyakinan

Ada yang mengajak gemetar tangan merengkuh untuk diyakini

Ada yang mengiyakan ragu agar berpegang padaNya

Nyai

Mata kita terbatas fitrah yang sudah tertulis

Jiwa kita dicampur kefasikan untuk menggoda taqwa yang terus dibangun

hati kita dilenakan keindahan sejati yang terus mengajak pergi ke kegelisahan diri

Nyai

Terlalu banyak bisikan meniupkan janji

Terlalu banyak rayuan memvisualisasikan akhir abadi

Terlalu banyak desahan membius keyakinan

Carilah satu saja

Dari balik hatimu, di kedalam jiwa, dalam teladan pesuruhNya, diantara Ayat-

ayatNya, pasti kau temukan ‘yang seharusnya’

.

Yang akan selalu mencintaimu

Ragawi

…………………

dilipatnya kembali, didekapkannya diantara gemuruh dada

“Akang ….Aku harus menemukannya…” bisik hati terdalam penuh keyakinan

…………….

Semburat lembayung memecah kelabu langit, menebar kembali warna-warni keabadian hati……..

EAR Ciputat040311

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: