Kembara Hati (bag.1)

Angin berhembus merebak lembaran-lembaran daun berkerumun, gemerisik suaranya berbisik menyampaikan lirik-lirik hati yang terusik, lirih, pelan, memapah hati semakin menyusup ke keharuan

“Yaaah …, aku harus tetap melangkah melanglang batas jiwa yang selalu terpana pesonamu…., terlalu muluk bila aku berdiam di keramaian cuntanya, berharap bintang dipinang rembulan..” Baca lebih lanjut

Di Perbatasan Janji

Ku mencoba mengatur getaran jantung yang berdegup keras tak teratur, kutata setiap helaan nafas tetap dalam tarikan tenang. Tak bisa kupungkiri kehadirannya mampu mengoyak kekuatan cinta yang terbungkus sebuah janji. Kulihat jam ditangan “2 menit lagi sebuah jajni akan bertaut, ah…”

Semakin kusibuk merapikan kegelisahan hati, benarkah dia yang ada di profil itu ? akankah keramahan dan kelembutan hatinya seperti untaian kata yang berbaris manja ?

Kuperhatkan pintu masuk caffe itu agar tak lepas dari pandang. Baca lebih lanjut

Cinta diantara Cinta

Apakah kamu masih mencintaiku?”
“Sangat..”

“Mengapa kau tak berani meminangku?”
“Apakah dengan keberanian itu kita pasti bersatu?”
“Setidaknya kita sudah berusaha..”
“Apakah selama ini aku tidak pernah berusaha?”
“Yang satu ini belum kau jalani..”
“Kamu menginginkannya?”
“Apakah kamu belum siap?
“Aku masih berpikir siapkah kamu”
“Maksudmu?”
“Kesiapan menghadapi akibat”
“Itu sebuah konsekwensi”
Baca lebih lanjut

Cinta dan Kejujuran

“Aku sebel….” Reynata memjatuhkan tubuhnya ke sofa
“Oh…jadi cucu abah kesini hanya untuk marah-marah yah ? kenapa omar?si abah langsung saja menuding bahwa ini ada hubungannya dengan si Omar pacar cucunya
“Dia sudah mulai ga jujur bah…”
“Koq bisa tahu ?”
“Dari sorot mata dan sikapnya, nyambung dengan informasi yang ada”
“Jangan-jangan ngambil keputusannya terbawa arus informasi”
“Ngga lah bah….Rey juga kan sudah menganalisanya …”
Baca lebih lanjut