Kembara Hati (bag.3)

Mahisa menghentikan langkah tepat sebatas mata memandang jelas rumah tercintanya, ragu dan rindu bertalu saling mengadu, malu semakin menguasai kalbu, terbayang penolakan diri akan hasrat yang tersirat dari kedua orang tuanya, ketika orang tuanya mengabulkan keinginan hatinya, ternyata yang didamba merombak bangunan cintanya, yang menjadi kekuatan hilang sudah tergerus realita yang tak pernah terlintas sejenakpun di dalam pikirannya.

“Ahh….maafkan aku ibu….”ditariknya napas yang panjang , sambil perlahan di kuatkan keyakinannya akan cinta yang akan menyambutnya. Baca lebih lanjut

Kembara Hati (bag.2)

Ketika kekuatan kembali, bukan berarti perjuangan cukup sudah, hembusan ketakyakinan dari sepoi hingga hembusnya silih berganti.. Mahisa gontai dalam keyakinan yang terus disusunnya kembali, mengayuh langkah setapak demi setapak menyusuri pinggiran desa menuju rumah yang sempat hendak ditinggalkannya.

Walau penyadaran akan apa yang terjadi adalah yang terbaik dari-Nya, namun ketakpercayaannya pada Ragawi selalu saja menyusup relung hatinya. Baca lebih lanjut